Banjarbarupost.id, BANJARBARU — Semangat kemandirian ekonomi terpancar dari wajah ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasturi, RT 33 RW 07, Kelurahan Syamsudin Noor. Pada Kamis (9/4/2026), rombongan ini bertolak menuju Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk melaksanakan studi tiru di Rumah Talipuk, Desa Banjang.
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM lokal agar mampu bertransformasi menjadi usaha yang inovatif dan berkelanjutan.
Belajar Langsung dari Ahlinya
Didampingi oleh Ketua RW 07 sekaligus pembina kelompok, Suyono, para anggota KWT Kasturi mendalami berbagai aspek manajerial bisnis. Fokus utama pelatihan ini meliputi:
-
Proses Produksi: Teknik pengolahan bahan baku lokal secara efektif.
-
Packaging: Strategi pengemasan produk agar memiliki daya tarik pasar.
-
Pemasaran: Kiat-kiat menembus pasar yang lebih luas.
“Kami ingin belajar langsung dari pelaku usaha yang sudah sukses membangun bisnis dari nol. Harapannya, ini menjadi motivasi besar bagi warga RW 07 untuk semakin giat berusaha,” ujar Suyono.
Sinergi CSR dan Ekonomi Komunitas
Keberangkatan rombongan yang terdiri dari pendamping CSR, bendahara KWT, dan tim UMKM jamu JASSER ini terealisasi berkat dukungan dana CSR Pertamina Patra Niaga (Fuel Terminal Syamsudin Noor). Kolaborasi ini menjadi bukti nyata peran dunia usaha sebagai mitra strategis dalam memberdayakan ekonomi berbasis warga.
Dari Jamu JASSER hingga Penanganan Stunting
KWT Kasturi memiliki rekam jejak yang inspiratif. Berawal dari pemanfaatan lahan pekarangan tidur menggunakan prinsip agroekologi, mereka berhasil memproduksi tanaman obat keluarga (toga) dan sayuran.
Produk unggulan mereka, Jamu JASSER 33, kini telah memiliki rantai nilai yang terintegrasi:
-
Hulu: Penanaman dilakukan oleh KWT Kasturi.
-
Proses: Pengolahan dilakukan oleh UMKM Posyandu Mawar.
-
Hilir: Distribusi ke masyarakat serta pemanfaatan produk untuk edukasi gizi dan penanganan stunting.
Komitmen Pasca-Pelatihan
Sepulangnya dari Amuntai, KWT Kasturi berkomitmen untuk langsung mempraktikkan ilmu yang didapat. Suyono menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar mengejar profit, melainkan upaya menciptakan kemandirian warga.
“Kami tidak ingin berhenti di tahap belajar saja. KWT Kasturi harus membuktikan bahwa dari pekarangan kecil, bisa lahir produk besar yang bermanfaat luas. Ini adalah gerakan bersama untuk kemandirian ekonomi kita,” tutup Suyono optimis. (pmw)
Sumber : banjarbaruemas.com












